Goreskan Penamu…………..

BY kangerik_ingsun No comments


  Hidupkanlah Pensilmu Menjadi Teman Bicaramu……….”           


Tidak mudah menggapai impian, tidak mudah mewujudkan mimpi, meraihnya sebagai sebuah kesuksesan. mungkin dari kalian ada yang bercita-cita menjadi seorang penulis terkenal, entah itu cerpen, novel, artikel, atau coretan ilmu pengetahuan. Banyak yang mengatakan bahwa “penulis” sangat aneh bila disebut sabagai cita-cita tapi itu hanya sebuah argumentasi omong kosog bagiku menjadi penulis adalah impian setiap orang karena dengan tulisanlah kita bisa dikenang dan dikenal bukan goresan luka pedang tapi goresan tangan atau “TULISAN”.
Seringkali dari kita bila sedang membuat suatu tulisan, apakah itu bersifat ilmiah ataupun juga Non-ilmiah, beban perasaaan yang membelenggu dari beberapa faktor seperti rasa takut yang berlebihan terhadap tulisan kita sendiri, biasanya yang paling umum rasa tidak percaya diri akan ‘kebenaran’ dan ‘kekuatan’ dari apa yang kita tulis. Hal itu sangat wajar terjadi, apalagi sebagian dari kita memang bukan berasal dari latar belakang penulis atau jurnalis. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah, menulis merupakan ketrampilan dasar yang bahkan seorang anak sekolah dasar pun mampu melakukannya. Rasa beban tersebut terjadi justru saat kita sudah punya banyak pengalaman dan pengetahuan, karena disitulah sumber utama masalahnya. Semakin pintar diri kita pasti berbanding lurus dengan semakin banyakanya analisa dan logika yang dominan di kepala kita.
Beda dengan orang yang punya sedikit pemikiran, kemungkinan besar ia akan bisa menulis dengan beban yang ringan karena yang banyak berperan adalah sisi kreatifnya di otak kanan yang tidak terlalu peduli dengan analisa logika otak kiri. Beberapa tips yang mungkin bisa kita terapkan untuk mendobrak belenggu dalam semangat menulis antara lain :
1)      Menulis adalah Kesenangan, bukan hanya games atau nonton bioskop saja yang bisa bikin kita senang, imajinasikan saat jemari kita menulis saat itulah sebenarnya kita sedang ‘bermain’ dengan kata-kata terangkai. Tidak perlu khawatir bahkan bila kosa kata kita agak berantakan, yang penting setiap huruf mengalir begitu saja sesuai dengan perasaan yang kita ciptakan tadi.
2)      Menulis adalah Berbicara, ini agak aneh memang, tapi saat kita menulis coba khayalkanlah bahwa kita ’sebenarnya’ ini sedang ngobrol dengan teman-teman kita. Saat imajinasi itu terjadi, saat itu pula kata-kata akan meluncur dengan deras layaknya sedang berbicara dengan teman-teman.
3)      Menulis berarti Berbagi, seperti halnya amal, setiap tulisan karya kita, sedikit banyak pasti dan harusnya bermanfaat untuk orang lain. Itulah sebenarnya kunci utama dalam kegiatan menulis. Kita membuat tulisan dan orang lain membacanya. Ada hubungan tidak langsung antara apa yang kita berikan dalam bentuk tulisan dengan kemajuan atau kesuksesan orang yang membacanya. Tidak selalu harus uang untuk beramal, tulisan juga bisa kok.
4)      Menulis berarti Membebaskan, dalam tulisan fiksi berupa cerpen atau novel, kita mendapat kesempatan yang sangat luas dalam berekspresi. Seorang penulis fiksi bebas berimajinasi terhadap keadaan, sang tokoh, alur cerita dll. Dalam kata lain, saat Anda menulis cerita, Anda adalah ’sang pencipta’. Ekspresikan diri kita sepuasnya karena ranah ini benar- benar milik kita.
5)      Menulis berarti Hidup, mirip sebuah iklan rokok, “bikin hidup lebih hidup”, mungkin seperti itulah perumpamaannya. Saat kita melakukan kegiatan tulis menulis saat itu pula kita seakan digiring ke sebuah fenomena aktualisasi diri. Menulis berarti menghidupkan jiwa kita dalam bentuk karya tulis. Menulis tidak hanya sekedar kegiatan layaknya makan minum, tapi lebih bermakna dalam, utamanya seperti bernafas, sudah menjadi bagian diri kita. Menulis adalah kehidupan kita.
Bagiku menulis merupakan inspirasi seni yang begitu menyenangkan tanpa kita sadar ketika mengawali menulis kita sangat ke sulitan harus memila dan memili kata apa yang pas untuk tulisan yang akan kita buat, tapi ketika satu kata untuk mengawali menulis itu sudah ditemukan dan pas mengenah dihiti jari-jari kita seolah protes jika pena itu ditaruh diatas meja untuk istirahat sejenak. pikiran dan fantasi kita masi terus berjalan dan mengalir tanpa hentinya membuat jari-jari begitu bersemangat untuk menyusun kata demi kata, bait demi bait mewakili fantasi yang ada. Kalau kalian tidak percaya silakan mencoba!!!?.

0 komentar:

Posting Komentar